Meyta Alvicena on Blogspot
Semua Hal Terjadi Karena Hati, So.. Keep Your Heart, Don't Let Someone Hurt Your Heart.. SEMANGAT PAGI..!!
Kamis, 09 Juni 2011
Senin, 21 Maret 2011
menjauhkan sikap takabur
hari ini ujian sekolah, satu kata untuk meyta. BERUNTUNG.
gila, gara-gara hari ini nyaris aku jadi orang yang sombong alias takabur. gimana enggak coba, 2 guru idolaku mengungkapkan hal yang sama..wih, asyik tau..
sekarang sedang berpikir, gimana caranya menjauhkan rasa takabur ini??tuiiing,
pokoknya hari ini hari yang berkesan dalam hidupku ;')
gila, gara-gara hari ini nyaris aku jadi orang yang sombong alias takabur. gimana enggak coba, 2 guru idolaku mengungkapkan hal yang sama..wih, asyik tau..
sekarang sedang berpikir, gimana caranya menjauhkan rasa takabur ini??tuiiing,
pokoknya hari ini hari yang berkesan dalam hidupku ;')
Jumat, 04 Maret 2011
Bintang di Taman Sekolah
Sekolahku, tempat di mana aku habiskan seluruh hariku. Berangkat pukul 06.30 dari rumah, pulang pukul 16.30 sampai di rumah. Setelah itu, setumpuk tugas minta dikerjakan. Belum lagi aku sebagai anak sulung dari tiga bersaudara harus menjaga adikku ketika ibu pergi bekerja pada malam hari. Aduh, repotnya punya orangtua yang sibuk bekerja. Apalagi adik bungsuku masih kecil, tiap malam pasti nangis minta minum.
Malam ini seperti biasa, ibuku berangkat ke kantor untuk siaran malam. Aku harus menemani Agra, adik tengahku belajar. Dia sudah kelas 5 SD. Cukup pintar lah, tapi di bandingkan aku tentu lebih jago aku. He he he. Untung, si kecil Cynta udah tidur dengan pulas. Jadi, aku bisa belajar tanpa ada gangguan.
“Kak Riko, siapa sih yang nemuin ban angin?” tanya Agra.
“Dunlop...” jawabku singkat.
“Kalau yang nemuin ban karet?” tanya Agra lagi.
“Goodyear...” jawabku.
“Kalau...yang nemuin...ban bekas??” canda Agra.
“Tuh, Bang Awam depan rumah.. he he he, nggak ada PR Gra?” tanyaku sambil ketawa.
“Enggak, besok cuma pelajaran Matematika sama IPA, terus pulang deh. Enak kan?” kata Agra.
“Huu, sekolah mahal-mahal kok pulang pagi terus. Ya udah, tidur sana.” Kataku.
“Oke deh,” jawab Agra.
Pagi hari, aku bangun pukul 4 pagi. Ambil air wudhu, sholat terus nyapu halaman. Dulu aku sering diledekin sama temen-temenku. Kata mereka, masa’ anak laki-laki nyapu halaman? Buatku, so what. Emang pekerjaan ada jenis kelaminnya? Enggak kan? Ha ha ha. Untung semalem Cynta nggak rewel, istirahatku nggak keganggu deh. Jadi, badan terasa segar pagi ini, dan siap untuk menerima pelajaran di sekolah.
Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku udah nunjukin pukul 06.45. tapi, kok masih sepi ya sekolahku? Ah, anak jaman sekarang. Berangkatnya telat, pulangnya lebih awal. Gimana kalau jadi pejabat? Pasti pada korupsi semua. Ha ha ha.
Tiba-tiba aku melihat cewek di taman sekolahku. Rambutnya hitam, panjang. Aduhai, cantiknya dia, gumamku. Ku beranikan diri untuk menghampirinya, oh ternyata dia Kristia, bunga sekolahku. Memang, aku tak begitu mengenalnya. Hanya saja Ivan, sahabatku sering cerita tentang dia. Saat aku mendekatinya, ternyata dia sedang menulis dengan laptopnya. Karena takut mengganggu, ku urungkan niatku untuk mendekatinya.
“Riko...”
Sepertinya ada yang memanggilku, tapi siapa? Nggak ada orang selain Kristia di sini. Tapi, apa dia mengenalku?
“Riko, ngapain kamu di sini?” kata Kristia.
“Kamu kenal aku? He he, aku mau ke kantin tadi.” Kataku bohong.
“Ya kenal dong, siapa sih yang nggak kenal sama juara Fisika kayak kamu?” jawabnya.
“He he he. Iya ya, mmm aku ke kantin dulu ya!” jawabku salah tingkah.
“Kantinnya di sana, bukan ini jalannya. Grogi ya Rik?” canda Kristia.
“Eh, iya. He he he.” Kata ku sambil lari.
Sesampainya di kelas, di sana udah ada Ivan. Lalu aku ceritakan semua kejadian pagi ini. Dia hanya tertawa mendengar ceritaku. Yang membuatku terkejut, siang ini Ivan mau nembak Kristia karena ia rasa waktu dua bulan untuk pedekate sudah cukup. Ia minta pendapatku, dan aku pun setuju saja. Toh itu bakal membuatnya bahagia kan?
Siangnya, di taman sekolah. Ketika semua siswa sedang istirahat dan persiapan untuk kegiatan lain di sore hari. Di bangku tempat Kristia duduk setiap paginya, Ivan menyatakan cintanya.
“Kristia,” panggilnya.
“Eh, Ivan. Ada apa Van?” jawab Kristia.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ada waktu?” kata Ivan.
“Sekarang kan udah ngomong, bilang aja lagi Van. Nggak usah sungkan.” Jawabnya.
“A..aku Ci..cin..cinta sa..samaa kaa..kamu,” ungkap Ivan.
“Aku juga Van,” jawabnya pendek.
“Kalau gitu, kamu mau kan jadi pacar aku?” ungkap Ivan sekali lagi.
“Tapi Van, aku udah mencintai seseorang. Bahkan, sebelum aku mencintai kamu.” Kata Kristia yang membuatku sedih karena ia menolak sahabatku. Aku sengaja mengintip mereka, he he he. Aku penasaran, siapa orang yang dicintai Kristia?
“Siapa dia Kris?” tanya Ivan dengan nada sedih.
“Tapi kamu jangan marah ya, aku mencintai Riko Van...” jawab Kristia.
Tiba-tiba ada semut menggigit kakiku. Saking kagetnya, aku teriak. Aku keluar dari tempat aku sembunyi. Mereka kaget, kenapa aku ada di sini.
“Kamu salah kalau mencintai aku Kris...” kataku sekenanya.
“Kenapa gitu? Kamu udah punya pacar?” tanya Kristia bingung.
“Enggak, bukan gitu. Tapi karena aku nggak cinta sama kamu. Dan kamu lebih cocok sama Ivan. Percayalah, Ivan yang terbaik untukmu karena dia sahabatku. Aku tau dia nggak akan mengecewakan kamu, iya kan Van?” tanyaku kepada Ivan yang dari tadi hanya menunduk.
“I..iya,” jawabnya singkat.
“Kita masih bisa menjadi sahabat Kris, aku nggak mau persahabatanku sama Ivan hancur gara-gara masalah cinta seperti ini. Aku ingin kalian bahagia,” kataku sambil merangkul Ivan dan Kristia.
Setelah saat itu, Ivan berpacaran dengan Kristia. Aku? Ha ha ha. Aku dari dulu mencintai sahabatku. Apapun aku lakukan asalkan mereka bahagia, seperti merelakan bunga sekolah secantik Kristia untuk sahabatku Ivan. Karena buatku, mereka seperti bintang. Ya, bintang di taman sekolah .
Malam ini seperti biasa, ibuku berangkat ke kantor untuk siaran malam. Aku harus menemani Agra, adik tengahku belajar. Dia sudah kelas 5 SD. Cukup pintar lah, tapi di bandingkan aku tentu lebih jago aku. He he he. Untung, si kecil Cynta udah tidur dengan pulas. Jadi, aku bisa belajar tanpa ada gangguan.
“Kak Riko, siapa sih yang nemuin ban angin?” tanya Agra.
“Dunlop...” jawabku singkat.
“Kalau yang nemuin ban karet?” tanya Agra lagi.
“Goodyear...” jawabku.
“Kalau...yang nemuin...ban bekas??” canda Agra.
“Tuh, Bang Awam depan rumah.. he he he, nggak ada PR Gra?” tanyaku sambil ketawa.
“Enggak, besok cuma pelajaran Matematika sama IPA, terus pulang deh. Enak kan?” kata Agra.
“Huu, sekolah mahal-mahal kok pulang pagi terus. Ya udah, tidur sana.” Kataku.
“Oke deh,” jawab Agra.
Pagi hari, aku bangun pukul 4 pagi. Ambil air wudhu, sholat terus nyapu halaman. Dulu aku sering diledekin sama temen-temenku. Kata mereka, masa’ anak laki-laki nyapu halaman? Buatku, so what. Emang pekerjaan ada jenis kelaminnya? Enggak kan? Ha ha ha. Untung semalem Cynta nggak rewel, istirahatku nggak keganggu deh. Jadi, badan terasa segar pagi ini, dan siap untuk menerima pelajaran di sekolah.
Jam digital yang melingkar di pergelangan tangan kiriku udah nunjukin pukul 06.45. tapi, kok masih sepi ya sekolahku? Ah, anak jaman sekarang. Berangkatnya telat, pulangnya lebih awal. Gimana kalau jadi pejabat? Pasti pada korupsi semua. Ha ha ha.
Tiba-tiba aku melihat cewek di taman sekolahku. Rambutnya hitam, panjang. Aduhai, cantiknya dia, gumamku. Ku beranikan diri untuk menghampirinya, oh ternyata dia Kristia, bunga sekolahku. Memang, aku tak begitu mengenalnya. Hanya saja Ivan, sahabatku sering cerita tentang dia. Saat aku mendekatinya, ternyata dia sedang menulis dengan laptopnya. Karena takut mengganggu, ku urungkan niatku untuk mendekatinya.
“Riko...”
Sepertinya ada yang memanggilku, tapi siapa? Nggak ada orang selain Kristia di sini. Tapi, apa dia mengenalku?
“Riko, ngapain kamu di sini?” kata Kristia.
“Kamu kenal aku? He he, aku mau ke kantin tadi.” Kataku bohong.
“Ya kenal dong, siapa sih yang nggak kenal sama juara Fisika kayak kamu?” jawabnya.
“He he he. Iya ya, mmm aku ke kantin dulu ya!” jawabku salah tingkah.
“Kantinnya di sana, bukan ini jalannya. Grogi ya Rik?” canda Kristia.
“Eh, iya. He he he.” Kata ku sambil lari.
Sesampainya di kelas, di sana udah ada Ivan. Lalu aku ceritakan semua kejadian pagi ini. Dia hanya tertawa mendengar ceritaku. Yang membuatku terkejut, siang ini Ivan mau nembak Kristia karena ia rasa waktu dua bulan untuk pedekate sudah cukup. Ia minta pendapatku, dan aku pun setuju saja. Toh itu bakal membuatnya bahagia kan?
Siangnya, di taman sekolah. Ketika semua siswa sedang istirahat dan persiapan untuk kegiatan lain di sore hari. Di bangku tempat Kristia duduk setiap paginya, Ivan menyatakan cintanya.
“Kristia,” panggilnya.
“Eh, Ivan. Ada apa Van?” jawab Kristia.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ada waktu?” kata Ivan.
“Sekarang kan udah ngomong, bilang aja lagi Van. Nggak usah sungkan.” Jawabnya.
“A..aku Ci..cin..cinta sa..samaa kaa..kamu,” ungkap Ivan.
“Aku juga Van,” jawabnya pendek.
“Kalau gitu, kamu mau kan jadi pacar aku?” ungkap Ivan sekali lagi.
“Tapi Van, aku udah mencintai seseorang. Bahkan, sebelum aku mencintai kamu.” Kata Kristia yang membuatku sedih karena ia menolak sahabatku. Aku sengaja mengintip mereka, he he he. Aku penasaran, siapa orang yang dicintai Kristia?
“Siapa dia Kris?” tanya Ivan dengan nada sedih.
“Tapi kamu jangan marah ya, aku mencintai Riko Van...” jawab Kristia.
Tiba-tiba ada semut menggigit kakiku. Saking kagetnya, aku teriak. Aku keluar dari tempat aku sembunyi. Mereka kaget, kenapa aku ada di sini.
“Kamu salah kalau mencintai aku Kris...” kataku sekenanya.
“Kenapa gitu? Kamu udah punya pacar?” tanya Kristia bingung.
“Enggak, bukan gitu. Tapi karena aku nggak cinta sama kamu. Dan kamu lebih cocok sama Ivan. Percayalah, Ivan yang terbaik untukmu karena dia sahabatku. Aku tau dia nggak akan mengecewakan kamu, iya kan Van?” tanyaku kepada Ivan yang dari tadi hanya menunduk.
“I..iya,” jawabnya singkat.
“Kita masih bisa menjadi sahabat Kris, aku nggak mau persahabatanku sama Ivan hancur gara-gara masalah cinta seperti ini. Aku ingin kalian bahagia,” kataku sambil merangkul Ivan dan Kristia.
Setelah saat itu, Ivan berpacaran dengan Kristia. Aku? Ha ha ha. Aku dari dulu mencintai sahabatku. Apapun aku lakukan asalkan mereka bahagia, seperti merelakan bunga sekolah secantik Kristia untuk sahabatku Ivan. Karena buatku, mereka seperti bintang. Ya, bintang di taman sekolah .
Minggu, 27 Februari 2011
permintaan maaf
maaf buat semuanya. meyta nggak bisa update blog ini selama dua bulan terakhir. meyta sibuk ujian...harap maklum :)
Jumat, 18 Februari 2011
Bunga Kenangan di Sekolah
Rasanya baru kemarin Syifa lulus SD dan masuk SMP ini, tapi sekarang udah mau lulus. Cepat sekali waktu ini berputar, gumamnya. Banyak hal yang ia lalui di sekolahnya ini. Itu yang membuatnya semakin berat meninggalkan SMP ini. Tapi, apa mungkin ia sekolah di sana selamanya? Tentu saja nggak. Ia harus melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, hingga ia bisa menjadi dokter seperti yang ia cita-citakan.
Dimulai dari pertama masuk sekolah, ia bertemu dengan seorang guru Bahasa Inggris yang membuatnya terpikat, namanya Mr.Alfa. Menurutnya, wajah Pak Alfa mirip sama Fernando Torres, pemain bola idolanya. I’m fall in love at the first sight, ungkapnya. Ya, dia adalah guru SMP pertama yang ia idolakan. Sampai detik ini, Pak Alfa masih menjadi idolanya, begitu pula dengan Pak Alfa, ia sangat menyayangi Syifa dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Yes! Cintaku nggak bertepuk sebelah tangan, gumam Syifa.
Syifa sering dianggap nggak normal, karena dia jatuh cinta dengan orang yang sudah punya istri. Tapi, status ia berpacaran dengan Axcel bisa menjawab isu-isu itu. Ya, pada saat Syifa memasuki semester kedua, ia jatuh cinta kepada teman dekatnya, Axcel. Setelah pendekatan selama satu bulan, akhirnya Axcel memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Syifa. Mereka pun berpacaran selama satu tahun. Kenapa putus? Karena Axcel meninggal dunia setelah ia berada di rumah sakit selama satu bulan. Ia mengidap penyakit kanker tulang belakang. Syifa sedih banget, pacar pertamanya meninggalkannya dengan cepat.
Bukan Syifa namanya, kalau terus bersedih. Ia justru semakin semangat untuk menjadi dokter. Kelak, Aku akan mencari obat untuk penyakit kanker tulang, dan obat itu aku kasih nama Axcelsyifaloid. Keren kaaan? Ucap Syifa.
Sekarang, hari-hari Syifa di SMP tinggal menghitung jari. Ia sekarang disibukkan dengan segala macam yang berhubungan dengan ujian. Aaah, pusingnya!! Kata Syifa. Tapi ia tetap semangat, apalagi ia mempunyai teman-teman yang sangat sayang kepadanya. Ia juga mempunyai guru-guru yang baik hati, yang nggak pernah marah kepadanya. Apalagi Pak Alfa, saat Syifa dekat dengan Pak Alfa, rasanya tenang banget. Kata Syifa, “Itu lho, senyum kalian seperti bunga yang lagi mekar. Aah, kayaknya sekolah ini seperti taman bunga di musim semi . Makasih buat kalian semua, bungaku!!”.
Kata-kata itu yang ia ucapkan pada saat ia menerima surat pernyataan yang menyatakan ia LULUS, dan cerita ini berakhir sampai di sini.
Senin, 14 Februari 2011
Langganan:
Entri (Atom)


